Sejarah Kabupaten Bangka

Sejarah mengungkapkan bahwa Pulau Bangka pernah dihuni oleh orang-orang Hindu dalam abad ke-7. pada masa Kerajaan Sriwijaya pula Bangka termasuk pula sebagai daerah yang takluk dari kerajaan yang besar itu. Demikian pula kerajaan Majapahit dan Mataram tercatat pula sebagai kerajaan-kerajaan yang pernah menguasai Pulau Bangka.

Namun pada masa itu pulau Bangka baru sedikit mendapat perhatian, meskipun letaknya yang strategis ditengah-tengah alur lalu lintas setelah orang-orang daratan Asia maupun Eropa berlomba-lomba ke Indonesia dengan ditemukannya rempah-rempah. Kurangnya perhatian dari para bajak laut yang menimbulkan penderitaan bagi penduduknya.

Untuk mengatasi kekacauan yang terjadi, Sultan Johor dengan sekutunya Sutan dan Raja Alam Harimau Garang. Setelah melakukan tugasnya dengan baik, juga mengembangkan Agama Islam ditempat kedudukannya masing-masing Kotawaringin dan Bangkakota. Namun sayangnya hal ini tidak berlangsung lama, kemudian kembali pulau Bangka menjadi sarang kaum bajak laut.

Karena merasa turut dirugikan dengan dirampasnya kapal-kapalmya maka Sultan Banten mengirimkan Bupati Nusantara untuk membasmi bajak-bajak laut tersebut, kemudian Bupati Nusantara untuk beberapa lama memerintah Bangka dengan gelar Raja Muda. Diceritakan pula bahwa Panglima Banten, Ratu Bagus yang terpaksa mundur dari pertikaiannya dengan Sultan Palembang, menuju ke Bangka Kota dan wafat disana.

perahu_kuno_01_300

Setelah Bupati Nusantara wafat, kekuasaan jatuh ketangan putri tunggalnya dan karena putrinya ini dikawinkan dengan Sultan Palembang, Abdurrachman (1659-1707), dengan sendirinya pulau Bangka menjadi bagian dari Kesultanan Palembang.

Pada tahun 1707 Sultan Abdurrachman wafat, dan ia digantikan oleh putranya Ratu Muhammad Mansyur (1707-1715).

Namun Ratu Anum Kamaruddin adik kandung Ratu Muhammad Mansyur kemudian mengangkat dirinya sebagai Sultan Palembang, menggantikan abangnya (1715-1724), walaupun abangnya telah berpesan sebelum wafat, supaya putranya Mahmud Badaruddin menyingkir ke Johor dan Siantan, sekalipun secara formal sudah diangkat juga rakyat menjadi Sultan Palembang.

Tetapi pada tahun 1724 Mahmud Badaruddin dengan bantuan Angkatan Perang Sultan Johor merebut kembali Palembang dari pamannya.

Kekuasaan atas pulau Bangka selanjutnya diserahkan oleh Mahmud Badaruddin kepada Wan Akup, yang sejak beberapa waktu telah pindah dari Siantan ke Bangka bersama dua orang adiknya Wan Abduljabar dan Wan Serin.

Kemudian atas dasar Konversi London tanggal 13 Agustus 1814, Belanda menerima kembali dari Inggris daerah-daerah yang pernah didudukinya ditahun 1803 termasuk beberapa daerah Kesultanan Palembang. Serah terima dilakukan antara M.H. Court (Inggris) dengan K. Heynes (Belanda) di Mentok pada tanggal 10 Desember 1816.

Kecurangan-kecurangan, pemerasan-pemerasan, pengurasan dan pengangkutan hasil Timah yang tidak menentu, yang dilakukan oleh VOC dan Ingris (EIC) akhirnya sampailah pada situasi hilangnya kesabaran rakyat. Apalagi setelah kembali kepada Belanda. Yang mulai menggali timah secara besar-besaran dan ang sama sekali tidak memikirkan nasib pribumi. Perang gerilya yang dilakukan di Musi Rawas untuk melawan Belanda, juga telah membangkitkan semangat perlawanan rakyat di Pulau Bangka dan Belitung.

Maka pecahlah pemberontakan-pemberontakan, selama bertahun-tahun rakyat Bangka mengadakan perlawanan, berjuang mati-matian utnuk mengusir Belanda dari daerahnya, dibawah pimpinan Depati Merawang, Depati Amir, Depati Bahrin, dan Tikal serta lainnya.

Kemudian istri Mahmud Badaruddin yang karena tidak serasi berdiam di Palembang diperkenankan suaminya menetap di Bangka dimana disebutkan bahwa istri Sultan Mahmud ini adalah anak dari Wan Abduljabar. Sejarah menyebutkan bahwa Wan Abduljabar adalah putra kedua dari abdulhayat seorang kepercayaan Sultan Johor untuk pemerintahan di Siantan, Abdulhayat ini semula adalah seorang pejabat tinggi kerajaan Cina bernama Lim Tau Kian, yang karena berselisih paham lalu melarikan diri ke Johor dan mendapat perlindungan dari Sultan. Ia kemudian masuk agama Islam dengan sebutan Abdulhayat, karena keahliannya diangkat oleh Sultan Johor menjadi kepala Negeri di Siantan.

Sekitar tahun 1709 diketemukan timah, yang mula-mula digali di Sungai Olin di Kecamatan Toboali oleh orang-orang johor atas pengalaman mereka di semenanjung Malaka. Dengan diketemukannya timah ini, mulailah pulau Bangka disinggahi oleh segala macam perahu dari Asia maupun Eropa. Perusahaan-perusahaan penggalian timah pun semakin maju, sehingga Sultan Palembang mengirimkan orang-orangnya ke Semenanjung Negeri Cina untuk mencari tenaga-tenaga ahli yang kian terasa sangat diperlukan.

Pada tahun 1717 mulai diadakan perhubungan dagang dengan VOC untuk penjualan timah. Dengan bantuan kompeni ini, Sultan Palembang berusa membasmi bajak-bajak laut dan penyelundupan-penyelundupan timah. Pada tahun 1755 pemerintah Belanda mengirimkan misi dagangnya ke Palembang yang dipimpin oleh Van Haak, yang bermaksud untuk meninjau hasil timaha dan lada di Bangka. Pada sekitar tahun 1722 VOC mengadakan perjanjian yang mengikat dengan Sultan Ratu Anum Kamaruddin untuk membeli timah monopoli, dimana menurut laporan Van Haak perjanjian antara pemerintah Belanda dan Sultan Palembang berisi :

  • Sultan hanya menjual timahnya kepada kompeni
  • Kompeni dapat membeli timah sejumlah yang diperlukan.

Sebagai akibat perjanjian inilah kemudian banyak timah hasil pulau Bangka dijual dengan cara diselundupkan.

Selanjutnya tahun 1803 pemerintah Belanda mengirimkan misi lagi yang dipimpin oleh V.D. Bogarts dan Kapten Lombart, yang bermaksud mengadakan penyelidikan dengan seksama tentang timah di Bangka.

Perjanjian Tuntang pada tanggal 18 September 1811 telah membawa nasib lain bagi pulau Bangka. Pada tanggal itu ditandatanganilah akta penyerahan dari pihak Belanda kepada pihak Inggris, dimana pulau Jawa dan daerah-daerah takluknya, Timor, Makasar, dan Palembang berikut daerah-daerah taklluknya menjadi jajahan Inggris.

Raffles mengirimkan utusannya ke Palembang untuk mengambil alih Loji Belanda di Sungai Aur, tetapi mereka ditolak oleh Sultan Mahmud Badaruddin II, karena kekuasaan Belanda di Palembang sebelum kapitulasi Tuntang sudah tidak ada lagi. Raffless merasa tidak senang dengan penolakan Sultan dan tetap menuntut agar Loji Sungai Aur diserahkan, juga menuntut agar Sultan menyerahkan tambang-tambang timah di pulau Bangka dan Belitung.

Pada tanggal 20 Maret 1812 Raffles mengirimkan Ekspedisi ke Palembang yang dipimpin oleh Jendral Mayor Roobert Rollo Gillespie. Namun Gillespie gagal bertemu dengan Sultan lalu Inggris mulai melaksanakan politik “Devide et Impera”nya. Gillespie mengangkat Pangeran Adipati sebagai Sultan Palembang denga gelar Sultan Ahmad Najamuddin II (tahun 1812).

Sebagai pengakuan Inggris terhadap Sultan Ahmad Najamuddin II dibuatlah perjanjian tersendiri agar pulau Bangka dan Belitung diserahkan kepada Inggris. Dalam perjalanan pulang ke Betawi lewat Mentok oleh Gillespie, kedua pulau itu diresmikan menjadi jajahan Inggris dengan diberi nama “Duke of Island” (20 Mei 1812).

Iklan

Sejarah Mentok

KOTA Mentok di Kabupaten Bangka Barat adalah kota tua yang berdiri sejak berabad silam. Penjajah Belanda-lah yang membangun daerah itu, sekaligus menjadikannya sebagai kota pelabuhan.

MELALUI Pelabuhan Muntok di Mentok, hasil alam terutama lada putih Bangka yang begitu terkenal diangkut kapal-kapal Belanda menuju ke daratan Eropa. Melalui Pelabuhan Muntok pula timah yang digali dari bumi Bangka dikirim ke negara penjajah.

Bekas kejayaan Mentok-sekaligus kebesaran penjajah Belanda-sampai kini masih jelas terlihat di kota yang kini ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka Barat tersebut. Ratusan gedung tua dengan mudah ditemui di seantero kota pantai dan perbukitan tersebut.

Dua di antara ratusan gedung tua yang masih kokoh berdiri bahkan memiliki nilai sejarah yang amat tinggi bagi negara ini. Dua gedung tua itu adalah Pesanggrahan Menumbing dan Wisma Ranggam, gedung tersebut pernah dijadikan tempat tinggal pendiri negara ini.

Bung Karno bersama Bung Hatta dan sejumlah pemimpin republik pernah menempati dua bangunan bersejarah itu saat dibuang Belanda pada Februari 1949. Bung Hatta saat dibuang menempati Pesanggrahan Menumbing yang terletak di tengah hutan perawan di atas Bukit Menumbing.

Di dua gedung yang lokasinya berjarak sekitar 10 kilometer itulah pemimpin lain seperti H Agus Salim dan Mr Mohammad Roem dibuang bersama Presiden dan Wakil Presiden RI pertama tersebut.

Di Mentok, wisatawan dapat pula menikmati kemegahan bangunan tua yang masih kokoh, mercu suar Tanjung Kelian yang dibangun tahun 1862. Dari puncak bangunan itu, pengunjung bisa menyaksikan seantero Mentok dan sekitarnya.

Namun, sayang, Mentok pun seperti kota tua yang terlupakan. Kota kecamatan itu tetap belum menjadi daerah tujuan wisata, baik bagi wisatawan luar daerah maupun mancanegara. Mentok baru dinikmati oleh sebagian kecil warga setempat dan daerah lain di Pulau Bangka.

Wisatawan lokal itu umumnya juga hanya menikmati Pantai Tanjung Kelian dan mercu suarnya, serta Bukit Menumbing. Karena belum dikelola menjadi daerah tujuan wisata, menyebabkan Mentok tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya.

Untuk Sejumlah kendala menghadang perkembangan Mentok. Salah satu hambatan utama adalah sulitnya transportasi di daerah itu. Agar bisa ke Bukit Menumbing, misalnya, alat transportasi yang bisa digunakan hanya dengan mobil atau sepeda motor sewaan, namun biayanya relatif mahal.

Para tukang ojek sepeda motor, misalnya, memasang tarif Rp 50.000-Rp 75.000 sekali jalan. Sementara mobil sewaan memasang tarif Rp 250.000. Mahalnya biaya disebabkan medan yang berat harus dilalui jika hendak ke Menumbing.

Jalan menanjak yang lebarnya hanya dua meter menjadi alasan mahalnya tarif. Belum lagi perjalanan menuju Menumbing yang harus melalui hutan perawan sejauh lima kilometer. “Saya tidak berani mengantar ke sana,” ujar Sarif, salah seorang tukang ojek sepeda motor ketika diajak ke Menumbing.

Di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut tersebut pengunjung bisa melihat-lihat kamar tempat Bung Karno dan Bung Hatta serta salah satu mobil yang mereka pakai saat diasingkan Belanda di daerah itu.

Pesanggrahan tempat pembuangan Bung Karno dan Bung Hatta itu sejak beberapa tahun lalu telah diubah menjadi hotel dengan nama Jati Menumbing. Dari atas perbukitan ini, Kota Mentok, Pelabuhan Muntok, dan Selat Bangka terlihat dengan jelas.

Di Mentok juga terdapat Wisma Ranggam yang saat ini tengah dipugar. Gedung tua itu juga pernah menjadi tempat tinggal Bung Karno saat berada dalam pengasingan di Mentok.

Keindahan Mentok tidak hanya itu. Berjalan-jalan di dalam kota kecil itu tidak ubahnya berjalan-jalan di kota tua. Di mana-mana terdapat gedung tua, baik yang masih terawat karena dihuni maupun yang sudah rusak berat karena dibiarkan telantar.

Itu semua bisa menjadi daya tarik bagi pengunjung yang datang. Warga Sumatera, misalnya, bisa datang ke Mentok melalui Pelabuhan Muntok. Dari Pelabuhan Boom Baru di tepi Sungai Musi di Kota Palembang, Mentok dapat dicapai dengan kapal cepat sekitar 2,5- 3 jam.

Belum bisa diwujudkannya Mentok sebagai daerah tujuan wisata, diakui Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Mentok Fauzi. Menurut dia, hal itu terjadi terutama karena selama ini perhatian pemerintah daerah dan pemerintah pusat masih kurang.

Namun, setelah Kabupaten Bangka dimekarkan dan salah satunya menjadi Kabupaten Bangka Barat, Fauzi yakin Mentok akan tumbuh menjadi daerah tujuan wisata yang dapat diandalkan. “Mentok ditetapkan menjadi ibu kota Kabupaten Bangka. Mudah-mudahan dengan menjadi ibu kota kabupaten, dalam waktu lima tahun ke depan Mentok akan jauh lebih maju,” katanya.

Dengan menjadi ibu kota kabupaten, ungkap Fauzi, pembangunan Mentok tentu akan lebih diperhatikan. Pembangunan di kecamatan yang berpenduduk sekitar 40.000 jiwa itu akan menyentuh pula sektor pariwisata.

WISATA Pulau Bangka memang tidak hanya melulu mengandalkan pantainya yang cantik-cantik. Sejumlah obyek lain di pulau itu bisa diandalkan menjadi magnet penarik wisatawan.

Sebut saja misalnya beberapa tempat-tempat pemandian air panas di beberapa kabupaten. Salah satunya adalah tempat wisata pemandian air panas Pemali di Sungai Liat, Kabupaten Bangka.

Sama seperti beberapa pemandian ari panas lain di Bangka, sumber mata air panas di Pemali juga berasal dari dalam perut bumi. Air panas yang konon bisa menyembuhkan aneka macam penyakit kulit itu keluar memancar dari perut bumi.

Namun, sayang, saat ini Pemali ditutup sementara karena di lokasi itu tengah dibangun rumah makan dan gedung lainnya. Hanya warga sekitar lokasi pemandian itu yang masih bisa mandi-mandi atau sekadar merendam kakinya di kolam air panas. Satu lokasi pemandian air panas lainnya ada di Dendang, Kecamatan Kelapa. Namun, lokasi ini belum dikelola secara baik.

Selain Pantai Pasir Padi, masih banyak pantai lain yang seharusnya bisa mengundang wisatawan. Sebut saja misalnya Pantai Matras, Pantai Parai/Tenggiri, Pantai Batu Bedaun, Pantai Tanjung Pesona, Pantai Teluk Uber, Pantai Rebo, Pantai Air Anyer, Pantai Remodong, Pantai Tanjung Kelian, Pantai Tanjung Ular, Pantai Pasir Kuning, dan Pantai Penyak.

Bagi penggemar lokasi wisata bukan pantai, Bangka juga memiliki tak sedikit tempat wisata. Bagi mereka yang suka wisata alam, di Sungailiat, Kabupaten Bangka, terdapat hutan wisata. Hutan ini terletak di jantung Sungailiat. Lokasinya di depan Masjid Agung. Tempat ini sering dipakai berkemah oleh anak-anak muda atau pelajar dan Pramuka.

Pulau Bangka yang sekitar 40 persen penduduknya warga keturunan Cina juga banyak memiliki gedung-gedung tua yang indah. Bahkan, kampung Cina dengan ciri khasnya bisa ditemui di sejumlah lokasi. Di beberapa kampung Cina, keanekaragaman adat, seni, dan budayanya bisa menjadi pemandangan tersendiri.

Beberapa kampung Cina yang terdapat di Pulau Bangka antara lain di Pari Tiga Jebus, Kuto Panji Belinyu, Kampung Bintang, Pangkal Pinang, dan Desa Mengkuban Manggar.

Desa wisata, tetapi dalam nuansa lain bisa pula ditemukan di Bangka, yakni Desa Wisata Bali. Desa ini adalah Trans VI Batu Betumpang yang merupakan desa percontohan, dengan penduduk berasal dari Bali. Bersihnya perkampungan, sifat gotong royong, balai banjar, dan pura tempat sembahyang umat Hindu Bali menjadi ciri khasnya.

Bangka seolah-olah diciptakan Tuhan menjadi tempat tujuan wisata. Lokasi wisata lain yang dapat dinikmati pengunjung antara lain air terjun Sadap di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Bahkan, tersedia wisata agro di pulau ini. Kebun lada putih yang banyak tersebar di pulau itu, ditambah perkebunan karet dan kelapa sawit, bisa menjadi pemandangan yang mengasyikkan bagi pengunjung.

Bagi penggemar buah nanas, hamparan perkebunan nanas yang luas bisa disaksikan di Toboali, di bagian selatan Pulau Bangka. Di perkebunan nanas ini pengunjung bisa langsung menikmati nanas segar dan manis langsung dari kebun.

Membicarakan potensi wisata Pulau Bangka memang seakan tiada habisnya. Selain di Mentok, tempat wisata sejarah terdapat pula di Kota Pangkal Pinang. Salah satu bangunan tua adalah Museum Timah yang terletak di jantung kota. Gedung ini menyimpan sejarah penambangan timah di Bangka.

Bangka masih pula menyimpan potensi wisata lain, misalnya kolam ikan Pha Kak Liang dengan bangunan khas Cina di Belinyu, klenteng di daerah Jebus juga menyimpan keindahan arsitektur khas Cina.

Begitu banyak dan beragamnya potensi wisata Bangka, membuat pulau ini pantas disebut tidak kalah dengan Pulau Dewata. Namun, pengelolaan yang tidak maksimal menyebabkan potensi ini seperti terabaikan. Jangankan orang Jakarta dan kota besar lainnya, warga Palembang dan Sumatera Selatan yang bertetangga pun seperti enggan berkunjung ke Bangka.

objek wisata bangka selatan


Pantai Tanjung Kerasak terletak di Desa Pasir Putih Berjarak kurang lebih 30 Km dari Toboali, dapat di tempuh selama 1 jam perjalanan dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Pantai ini memiliki air yang  jernih  dan pasir yang putih, disekitar pantai merupakan hutan yang masih alami sering digunakan untuk kegiatan berkemah , rekreasi dan olahraga voly pantai . Suasana hutan yang masih alami di sekitaran pantai juga membuat keindahan alam semakin membuat kita betah untuk memanjakan diri disini.

Pantai Gunung Namak terletak di Kecamatan Taboali Kabupaten Bangka Selatan, berjarak sekitar 18 km dari kota Taboali dan dapat ditempuh selama 1 jam perjalanan dengan kendaraan roda dua dan empat. Dengan hamparan pantai yang landai dan air laut yang masih sangat biru membuat pantai gunung namak ini sangat cocok sekali untuk menjadi tujuan wisata keluarga. Dan terutama untuk wisatawan yang hobi memancing di laut.

Pantai Tanjung Timur terletak di kecamatan toboali kabupaten Bangka Selatan, lokasi pantai ini dapat di tempuh selama 45 menit perjalanan dari kota Toboali dengan menggunakan speed boat tradisional rakyat.

Pantai Tanjung Labu

pantai_tj_labu

Pantai Tanjung Labu berjarak lebih kurang 22 Km dari Desa Penutuk yang terletak di Pulau Lepar. Pantai Labu bisa dikunjungi melalui kota Toboali, 130 Km dari kota Pangkalpinang ke arah selatan. Dari kota “Belacan Toboali”, perjalanan sepanjang 36 Km lagi dari pelabuhan Sadai. Dari dermaga, tampak sebuah pulau terbentang. Itu lah Pulau Lepar, dermaga pendaratan tujuan terdekat adalah Desa Penutuk. Untuk menyeberang ke Desa Penutuk, dapat menggunakan boat penumpang dengan biaya Rp.5000,- per orang atau menyewa speed boat tradisional dengan biaya Rp.70.000,- untuk 4 orang. Waktu tempuh adalah 15 menit. Untuk pulang-pergi dengan biaya speed boat seharga Rp. 600.000,- Pantai ini memiliki pasir yang putih dan halus, seperti tepung, serta air yang sangat jernih dilengkapi dengan tebaran batu-batu granit yang besar.

Eksotisme alam Bangka Belitung memang sudah tak terbantahkan, Hampir seluruh rangakaian pulaunya memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan, salah satunya adalah Pantai Tanjung Labu yang terletak di Pulau Lepar. Pulau ini memiliki luas sekitar 20ribu Ha, dan merupakan yang terluas dibandingkan pulau-pulau kecil di Kep. Bangka Belitung. Di  Pulau Lepar terdapat tiga desa, yaitu Desa Penutuk, Desa Tanjung Sangkar, dan Desa Tanjung Labu. Tanjung Masing-masing desa memiliki pemandangan yang indah. Namun, tentu saja yang paling sering dikunjungi oleh wisatawan adalah Desa Tanjung Labu.

Pantai Tanjung labu masih sangat terjaga kondisi alamnya, mempunyai pasir yang putih dan halus, seperti tepung, serta air laut yang berwarna biru dan sangat jernih berserta pemandangan tebaran batu-batu granit yang besar menambah daya tarik Pantai Tanjung labu ini. Tidak hanya itu, Keindahan bawah lautnya patut anda cantumkan ke dalam list perjalanan anda yang mempunyai hobby diving. Ikan-ikan kecil yang bersembunyi di antara terumbu karang terlihat sangat lucu. Jika beruntung, Anda bisa melihat penyu yang terdampar di pantai ini. Penyu tersebut memang sering terdampar atau terperangkap di jebakan nelayan. Namun, baik nelayan maupun penduduk setempat selalu melepaskan kembali hewan tersebut demi kelangsungan hidupnya. Hal seperti inilah yang membuat keindahan alam di sekitar Pantai Tanjung Labu tetap lestari.

SARANA DAN PRASARANA di Bangka Selatan

A. HOTEL
1. Hotel Grand Marina
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
Telp : 0718 41877

2. Hotel Ariatama
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
Telp : 0718 41969

3. Hotel A3
Alamat : Jl. Kulong 2 Toboali
Telp : 0718 41237

4. Penginapan Kita
Alamat : Jl. Jend Sudirman Toboali
Telp : 0819 49045375

B. TOUR & TRAVEL
1. Adhita Tour & Travel
Alamat : Jl. Imam Bonjol No. 5 Toboali

2. CV. Jaya Bersama
Alamat : Jl. Jend. Sudirman, Gg. Menanti Toboali

3. CV. Sumber Jaya Makmur
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 132 Toboali

4. CV. Bella Jaya (Carmeta Travel)
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 55 Toboali

C. RUMAH MAKAN
1. Marisha Beach Cafe
Alamat : Jl. Merdeka Toboali
2. Rumah Makan Asrina Jaya
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 64 Toboali
3. Rumah Makan Setia Kawan
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 63 Toboali
4. Rumah Makan Elvy Rosa
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
5. Rumah Makan Putra Bangka
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
6. Rumah Makan Minang Maimbau
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 62 Toboali
7. Rumah Makan Tina
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 146 Toboali
8. Rumah Makan Azizah
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
9. Rumah Makan Cahaya Minang
Alamat : Jl. H. Agus Salim No. 148 Toboali
10. Rumah Makan Rosmi
Alamat : Kec. Air Gegas
11. Rumah Makan Junaidi
Alamat : Kec. Air Gegas
12. Rumah Makan Bahri
Alamat : Kec. Payung
13. Rumah Makan Eti
Alamat : Kec. Payung
14. Rumah Makan H. Sumroh
Alamat : Kec. Payung
15. Cafe Dodi
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
16. Cafe Jatira
Alamat : Jl. Rawabangun No. 99 Toboali
17. RM. Defi
Alamat : Jl. Lintas Parit 3 Sadai Toboali
18. RM. Ceria (Bu Yono)
Alamat : Depan Kejari Toboali
19. RM. Aura Minang
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
20. RM. Bareh Solok
Alamat : Jl. Puput Toboali
21. RM. Sederhana
Alamat : Jl. Puput Simpang Nanas Toboali
22. RM. Famili
Alamat : Depan Tugu Nanas Toboali
23. RM. Asrina Jaya
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
24. RM. Tiara
Alamat : Depan Koramil Toboali
25. RM. Minang Setia Kawan
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
26. RM. Puri Minang
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
27. RM. Dua Bersaudara
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
28. RM. Cahaya
Alamat : Jl. Pasar Toboali
29. RM. Restu Bundo
Alamat : Jl. Desa Gadung
30. RM. Jumbo Fried Chicken (JFC)
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
31. RM. Metro Fried Chicken
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali

D. TOKO MAKANAN KHAS
1. Toko Kretek Riski
Alamat : Jl. Sederhana (Kp. Padang) Toboali

2. Toko Getas Istimewa
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali

E. RUMAH SAKIT
1. Rumah Sakit Umum Daerah
Alamat : Jl. Raya Gadung Toboali
Telp : 0718 42093

2. Posyandik Yayasan Bakti Timah
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
Telp : –

F. KANTOR POS
1. PT. Pos Indonesia (Persero)
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 224 Toboali

G. TEMPAT IBADAH
1. Mesjid Agung Toboali
Alamat : Komp. Perkantoran Terpadu Pemda. Bangka Selatan
2. Vihara Prajna Paramita Maitreya
Alamat : Jl. Ampera Toboali
3. Gereja Katolik Stella Marris
Alamat : Jl. Jend. Sudirman No. 94 Toboali
4. Gereja Protestan Jemaat Efrata
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
5. Klenteng Dewi Sin Mu
Alamat : Jl. R.A Kartini Toboali
6. Pure Simpang Rimba
Alamat : Kec. Simpang Rimba

H. BANK
1. Bank SUMSEL
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
2. Bank BRI
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
3. Bank Mandiri
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
4. Bank Danamon
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
5. Bank Syariah
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali

SANGGAR KESENIAN di Bangka Selatan

1. Sangar Junjung Besaoh
Alamat : Jl. Teladan Dalam Toboali
2. Sanggar Tiara Selatan
Alamat : Jl. Sultan Syahril, Parit 8, Toboali
3. Sanggar Paramita
Alamat : Jl. Ampera Toboali
4. Sanggar Bambusa
Alamat : SMA Negeri 1 Payung
5. Sanggar Bali Jegeg
Alamat : Jl. Sumber Jaya Permai P. Besar
6. Paguyuban Pejaten Jaipong
Alamat : Desa Rias SPC Toboali
7. Paguyuban Pejaten Singa Depok
Alamat : Desa Rias SPC Toboali
8. Paguyuban Karya Mekar
Alamat : Desa Panca Tunggal P. Besar
9. Paguyuban Marga Budaya
Alamat : Jl. Sumber Jaya Permai P. Besar
10. Paguyuban Langgeng Tri Sedya
Alamat : Desa Panca Tunggal P. Besar
11. Group Barongsai Nam Chiang
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
12. Group Kuda Lumping Tresno Budoyo
Alamat : Desa Rias SPC Toboali
13. Group Wayang Kulit Tresno Budoyo
Alamat : Desa Rias SPC Toboali
14. Group Jaipong Sidoharjo
Alamat : Desa Sidoharjo Kec. Air Gegas
15. Sanggar Dharma Habangka
Alamat : Jl. Jend. Sudirman Toboali
16. Sanggar Sapta Asoka
Alamat : Jl. Kolong 2, SMAN 1 Toboali
17. Sanggar Daun Simpur
Alamat : Desa Payung
18. Sanggar Angsa Putih 1
Alamat : Desa Payung
19. Sanggar Angsa Putih 2
Alamat : Desa Payung
20. Sanggar Humpit Berduri
Alamat : Desa Bencah
21. Sanggar Kembang Serujo
Alamat : Pulau Pongok

Ragam Indonesia – Bangka Belitung

Bangka Belitung kaya akan tempat-tempat wisatanya…
nah buat kamu-kamu yang belum tau indahnya liburan di bangka belitung
saya pengen berbagi informasi…

Pinang Sebelas

tarian pinang sebelas berarti kota pangkalpinang yang lahir pada bulan sebelas (November) , Merupakan tari penyembutan tamu , sebagai adat melayu yang selalu menghormati tamu . Pata bujang dan dayang dengan ramah , sopan dan berwibawa menyambut tamu yang hadir.