Category Archives: Kesenian Daerah

Pinang Sebelas

tarian pinang sebelas berarti kota pangkalpinang yang lahir pada bulan sebelas (November) , Merupakan tari penyembutan tamu , sebagai adat melayu yang selalu menghormati tamu . Pata bujang dan dayang dengan ramah , sopan dan berwibawa menyambut tamu yang hadir.

Sejarah Tari Campak – BangkaBelitung

Tari Campak ini berasal dari daerah Kepulauan Bangka Belitung, tari mejelaskan tentang pergaulan yang menggambarkan kegembiraan kaum muda mudi. Tarian ini biasanya dibawakan berpasangan oleh laki-laki dan perempuan.
Menurut cerita, tari Campak aslinya berasal dari Pulau Lingga di Riau. Tarian ini kemudian dibawa ke Bangka Belitung sekitar abad ke 18 oleh orang yang bernama Nek Campak. Mungkin karena yang mengembangkan tarian ini bernama Nek Campak, tarian ini kemudian diberi nama Tari Campak.
Perkembangan mengenai Tari Campak ini pernah mengalami akulturasi dengan budaya Eropa, khususnya bangsa Portugis. Karena di masa itu Kepulauan Bangka Belitung berada dibawah jajahan Portugis. Pengaruh ini dapat dilihat dari salah satu alat musik pengiringnya yang berasal dari Eropa yaitu akordion.

campak Babel

Budaya Eropa membawa pengaruh terhadap Tarian Campak ini dan dapat dilihat dari alat musik pengiringnya yaitu akordion. Pengaruh ini tampak juga pada busana modern Eropa yang dipakai penari perempuannya, seperti gaun panjang, topi, dan sepatu berhak tinggi. Sedangkan penari laki-laki mengenakan busana tradisional yakni kemeja, celana panjang, peci, dan selendang.

Walaupun mendapat pengaruh dari budaya Eropa, tari campak Bangka Belitung tetap merupakan tari tradisional karena memiliki nilai-nilai budaya lokal yang dipertahankan. Tari campak biasanya dibawakan untuk merayakan waktu musim panen padi. Selain itu tari yang penuh keceriaan sering dibawakan para muda mudi sepulangnya dari ume atau kebun. Dalam perkembangannya tari campak juga dipertunjukan dalam pesta-pesta adat seperti penyambutan tamu dan pernikahan.

Pagelaran tari campak selalu meriah dan menarik hati. Para penari tidak hanya menari berpasang-pasangan mengikuti irama musik, mereka juga melantunkan pantun. Mereka saling berbalas pantun sampai akhirnya penari laki-laki merasa kalah. Uniknya, setelah kalah membalas pantun penari laki-laki harus memberikan uang kepada penari perempuan. Kemeriahan gerak tari dan lantunan pantun yang dibawakan oleh para penari tari campak diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong dan gendang serta alat musik modern Eropa yaitu akordion dan biola.

Kundeng Laot – Tiara Selatan

 

SINOPSIS
“KUNDENG LAOT”

Kundeng Laot merupakan kegiatan suku sekak sebelum melaut.Tarian Kundeng Laot berpijak pada gerakan Gajah Menunggang yang telah di kreasikan, serta terinspirasi dari gerakan dan suasana yang ada di laut.
Penggunaan ancak yang disimbolkan sebagai tempat sesaji yang juga mendukung dalam acara adat “ KUNDENG LAOT ”.

Produksi : Sanggar Tiara Selatan Bangka Selatan
Penata Tari/Koreografer : Rizky Al Saddam Saputra
Penata Musik/Komposer : Sispurwanto, S.Pd
Penata Rias & Busana : Nopri Dwi Anggara & Che-Che Yati
Pimpinan : Anto Soekarsa

Tari Ayun Guang(Emak) – Tiara Selatan

 

SINOPSIS
“AYUN GUANG (EMAK)”

Tarian ini menceritakan tentang Cinta, Hormat dan Kasih Sayang anak kepada Orang tua sesuai dengan ajaran Melayu Islam yang mewajibkan anak patuh, hormat dan sayang dan selalu mendo’akan orang tuanya.
Dengan tekad mereka mewujudkan cita-cita serta menjunjung tinggi rasa kebersamaan kearah tujuan hingga mencapai keberhasilan untuk membangun daerah yang berbudaya.

Produksi : Sanggar Tiara Selatan Bangka Selatan
Penata Tari/Koreografer : Che-Che & Marpiandi
Penata Musik/Komposer : Beben & Erix
Penata Rias & Busana : Butet Lentik

GajahManunggangKreasi – Tiara Selatan

Tarian ini di kreasikan dari tarian Gajah Manunggang Tradisi…

Produksi by:

Sanggar Seni Tiara Selatan, Toboali-BangkaSelatan

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Tari Tradisi “Gajah Manunggang” Tiara Selatan – Bangka Selatan

 

 

LATAR BELAKANG TARI GAJAH MENUNGGANG
Suku Laut ini mempunyai adat Tradisional yaitu “BUANG JUNG” (membuang perahu yang ukuran mini) ke laut. Sebagai ungkapan terima kasih kepada penguasa laut, agar mereka terhindar dari marabahaya dan mengharapkan keselamatan tahun depan.

Jung (perahu) tersebut diarak ke tengah laut, setelah sampai ke tempat yang telah ditentukan Jung tersebut, dengan upacara adat dan kemudian perahu di lepas sampai tenggelam barulah mereka pulang ke pantai.
Setelah sampai di pantai, mereka mengadakan upacara bersimburan akhir dari acara “BUANG JUNG”, dan acara ini hanya sebagai tradisi, dalam acara ini terciptalah tarian “Gajah Menunggang” yang menggambarkan bagaimana keadaan perahu-perahu yang di bawa gelombang laksana seseorang menunggang gajah.