Category Archives: Acara Adat

Wisata Adat dan Budaya di Kabupaten Bangka

Upacara Adat Rebo Kasan

pict4291_277Upacara adat Tolak Bala disimbolkan dengan ‘ ketupat lepas ‘ dan ‘air wafa’ yang dilaksanakan secara turun temurun oleh penduduk desa Air Anyir, Kecamatan Merawang. Merupakan agenda tahunan setiap tanggal 24 safar (hijriyah).

Traditional ceremony warding off mishap symbolized by ‘ketupat lepas’ and ‘air wafa’ maintained from generation to generation by the inhabitants of Air Anyir village, sub-district of Merawang. This annual event is held every 24 Shafar (Isalmic Calendar).

Tradisi Sepintu Sedulang

pict9080_277Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukan. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang, dapat disaksikan pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawainan dan kematian.

Tradisi ini lebih dikenal dengan sebutan ” Nganggung “, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar.

The coorperation spirit of Bangka people is quite strong and deep rooted. People well easily lend their hand to help when needed. This spirit is based on Sepintu Sedulang philosophy (together in good time and bad time). This can be seen for example during pepper harvest, traditional functions, religius ceremonies, wedding, and funeral. This tradition is better know as “Nganggung”, where each household delivers dishes of food in a ‘dulang’ (large rounded tray).

Perayaan Maulid Nabi

pict1896_277Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diramaikan dengan Tradisi Ngangung ( dimana setiap rumah membawakan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar) dan dimeriahkan dengan berbagai lomba kesenian Islami. Merupakan kegiatan agenda tahunan berdasarkan kalender Islam yang dipusatkan di Kecamatan Mendo Barat.

The commemoration of the birth of Mohammed Prophet which main attraction is Nganggung Tradition whereas every home brings a voluntary offering of dishes in a big rounf tray exalted with various Islamic Art contests. This annual even based on Islamic Calendar is centered on the sub-district of Mendo Barat.

Ritual Mandi Belimau

mandi_belimau_277Upacara Adat membersihkan anggota tubuh dengan “air taubat”. Kegiatan adat yang dilakukan masyarakat Dusun Limbung, Desa Jada Bahrin dan Desa Kimak, Kecamatan Merawang. Kegiatan ini dilaksanakan satu minggu sebelum datangnya bulan suci Ramadhan, mengambil tempat di pinggir Sungai Limbung.

Belimau Bathing is traditional ceremony of washing body with “air taubat” (repent water). This ceremony is commonly practiced by people of Dusun Limbung, Jada Bahrin Village and Kimak Village of Merawang Distric, and is generally practiced a week prior to holly Ramadhan fasting month. This ceremony takes place in Limbung riverbank.

Bangka Ceria Imlek

pict3818_277Perayaan selama satu minggu menyambut Tahun Baru Imlek yang diselenggarakan di Kota Sungailiat. Merupakan agenda tahuuanan mengikuti hitungan Kalender Cina.

This full-week gala celebrates Chinese New Year in the city of Sungailiat. This annual event is based on Chinese Calendar.

Sembahyang Kubur

tempat_ibadah_dewi_kwan_yin_277Upacara ritual ziarah kubur untuk menghormati para leluhur yang dilaksanakan di Perkuburan Kemujan Kota Sungailiat. Merupakan agenda tahunan Kalender Cina.

This ritual devoting to ancestors is held in Kemujan Cemetery, Sungailiat. This annual event is based on Chinese Calendar.

Sun Go Kong

sun_go_kong_kampung_gedong_277_277Even upacara Bulan, budaya Cina yang diselenggarakan di kampung Gedong, Kecamatan Riau Silip Merupakan agenda tahunan

This annual ritual is held among Chinese community in Kampong Gedong, sub-district of Riau Silip. The main attarction in this event is lunar ceremony.

Sembahyang Rebut

pict8961_277Ritual budaya masyarakat cina memuja Dewi Kwan Im yang diselenggarakan di Kampung Sunghin, Kecamatan Merawang. Merupakan agenda Tahunan.

This annual event is held among Chinese community deifying Kwan Im goddes in Kampong Sunghin, sub-district of Merawang.

Iklan

Perang Ketupat – Bangka Barat

Perang Ketupat

Perang Ketupat merupakan acara adat yang biasa di gelar di pulau Bangka. Acara ini diselenggarakan setiap masuk Tahun Baru Islam (1 Muharam) di Pantai Tempilang, Kabupaten Bangka Barat. Pada saat acara ini berlangsung, penduduk sekitar pantai Tempilang yang menyelenggarakan acara tersebut akan membuka pintu rumah sebesar-besarnya untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke desa mereka.

Perang ketupat adalah acara inti dari semua prosesi dari acara hari itu. Orang-orang berkumpul di Pantai Tempilang, kemudian pada saat Meriam dinyalakan bertanda acara dimulai. Orang-orang saling melempar ketupat ke setiap orang yang mereka temui. Acara ini cukup digemari oleh kaum muda di daerah Bangka. Banyak pemuda yang sengaja datang dari jauh, atau malah pulang dari perantauan untuk menghadiri acara ini.

Kepunan (kepon) – Adat Bangka

Tidaklah baik kamu menolak makan/minum ataupun sekedar mencicipi suatu makanan/minuman yang disuguhkan orang lain. Hal ini telah menjadi suatu kebiasaan yang telah lama melekat dalam adat istiadat masyarakat Bangka Belitung.

Terlebih lagi bila kita akan pergi ke sungai, hutan, laut, atau kemana saja. Imbas dari sikap kita yang “kalo” tidak mencicipi makanan/minuman tersebut, kadangkala dan sering terjadi hal-hal yang bisa mendatangkan musibah. Katakanlah nasib sial akan mengikuti kita. Misalnya mengalami kecelakaan, bertemu hantu, digigit binatang buas/berbahaya dan lainnya.

Menurut masyarakat Bangka, kejadian yang berlatar akibat kepon itu sudah banyak sekali terjadi. Contoh kongkritnya banyak berupa kecelakaan dan berbagai musibah lain. Di desa Perlang, Kabupaten Bangka Tengah, dulu pernah terjadi seorang warga yang disambar buaya setelah istrinya menawari (menyuruh) untuk makan nasi bubur yang sudah disiapkannya ketika jam makan (siang hari).

Untuk menangkal dan sebagai tindakan penawar kepon, dikenal istilah malet. Malet adalah sikap kita dengan mencicipi makanan atau minuman itu dengan menyentuh menggunakan ujung jari dan dicicipi dilidah. Kadangkala ujung jari yang sudah disentuh dengan makanan/minuman itu cukup disentuhkan pada tangan kita.

Untuk makanan dan minuman yang sangat vital akan adat istiadat kepon dan malet ini adalah :

1. Kopi , terutama kopi hitam (kopi kampung). Kalo NESCAFE dan lainnya, tetep juga katanya.
2. Nasi , bisa meliputi nasi bubur, nasi goreng dan semacamnya.
3. Makanan yang terbuat dari beras ketan dan berbagai hasil pertanian yang dihasilkan sendiri.

Terlepas dari adanya korelasi KEBETULAN dan KETETAPAN ILAHI atas budaya kepon dan malet ini, adat dan istiadat ini masih berkembang di masyarakat Bangka Belitung hingga saat ini. Dan gak ada salahnya bila kita ditawari makanan/minuman di Bangka, janganlah menolak untuk mencicipinya. Paling gak malet saja.

Sepintu Sedulang

Sepintu SedulangKata sepintu sedulang adalah semboyan dan motto masyarakat Bangka yang bermakna adanya persatuan dan kesatuan serta gotong royong. Ritual ini adalah satu kegiatan penduduk pulau Bangka pada waktu pesta kampung membawa dulang berisi makanan untuk dimakan tamu tau siapa saja di balai adat. Dari ritual ini, tercermin betapa masyarakat Bangka menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan serta gotong royong, bukan hanya dilaksanakan penduduk setempat melainkan juga dengan para pendatang.

Jiwa gotong royong masyarakat Bangka cukup tinggi. Warga masyarakat akan mengulurkan tangannya membantu jika ada anggota warganya memerlukanya. Semua ini berjalan dengan dilandasi jiwa Sepintu Sedulang. Jiwa ini dapat disaksikan, misalnya pada saat panen lada, acara-acara adat, peringatan hari-hari besar keagamaan, perkawianan dan kematian. Acara ini lebih dikenal dengan sebutan “Nganggung”, yaitu kegiatan setiap rumah mengantarkan makanan dengan menggunakan dulang, yakni baki bulat besar.

Tradisi Adat Buang Jong

Tradisi Buang JongSuku sawang merupakan salah satu kelompok masyarakat yang hidup dan menetap di desa Kumbung dan desa Tanjung Sangkar, kecamatan Lepar Pongok Bangka Selatan. Sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai nelayan. Secara turun temurun, semua kebutuhan hidup mereka tergantung dari hasil laut. Bagi mereka, laut memiliki arti yang sangat penting. Begitu pentingnya arti laut, mereka selalu memberikan persembahan pada laut. Suku sawang memiliki cara tersendiri untuk menentukan kapan tradisi persembahan kepada laut dilaksanakan.
Setiap tahun, tradisi ini dilaksanakan ketika mereka menganggap alam telah mengalami perubahan, seperti angin laut yang berhembus kencang dan air laut menjadi pasang. Ketika gejala alam itu terjadi, suku sawang mulai mempersiapkan segala kebutuhan tradisi, seperti memasak aneka makanan dan kue, serta menyiapkan hasil bumi berupa beras, gula, kopi, dan mie instan. Setelah mempersiapkan aneka macam persembahan, mereka membuat perahu layar yang terbuat dari kayu pohon jeruk antu.

Kayu pohon itu diambil dari pulau ibul yang terletak diseberang laut desa kumbung. Untuk mengambil kayu pohon itu, mereka harus berlayar mengarungi laut dari Desa Kumbung, Kecamatan Lepar Pongok. Oleh Suku Sawang, Pulau Ibul diyakini sebagai tempat tinggal leluhur pertama Suku Sawang. Setelah perahu itu berhasil dibuat dan dihias sedemikian rupa hingga tampak menarik, barulah aneka persembahan yang telah disiapkan sebelumnya diletakkan diatas perahu.

Keesokan harinya dan ketika hari tradisi telah tiba, semua Suku Sawang dilarang untuk pergi berlayar dan bekerja di laut. Seperti tahun – tahun sebelumnya, tradisi sedekah laut selalu dilaksanakan di tepi pantai Kumbung Ujung Gusung, Bangka Selatan. Rangkaian acara tradisi diawali dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh tetua adat Suku Sawang. Setelah berdoa, acara dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian tradisional Suku Sawang yakni Tunjang Angin.
Di Bangka Selatan, setiap kali tradisi sedekah laut dilaksanakan, pertunjukan Tunjang Angin selalu dimainkan. Yang menjadi daya tarik dari pertunjukan ini adalah seorang lelaki Sawang yang memperlihatkan keahlian berdiri diatas dua buah tiang kayu. Bukan hanya sekedar berdiri diatas tiang, lelaki itu pun menari mengikuti alunan gendang yang dimainkannya sendiri selama beberapa menit. Sementara ketinggian kayu itu mencapai kurang lebih 5 meter dari permukaan tanah atau biasa disebut Tiang Jitun.
Karena atraksi ini relatif berbahaya, hanya lelaki pilihan ketua adat Suku Sawang-lah yang boleh menjadi pemain Tunjang Angin. Setelah permainan Tunjang Angin berakhir, acara dilanjutkan dengan pertunjukan Tari Gajah Manunggang yang menggambarkan sukacita Suku Sawang atas keberkahan hasil laut. Selama pertunjukan berlangsung, tarian ini dominan dengan gerakan seolah mengayuh dayung perahu. Melalui gerakan itu, suku sawang menunjukkan bahwa sejak dulu hingga kini Suku Sawang berprofesi sebagai nelayan.
Sesaat setelah pertunjukan itu berakhir, para tetua adat mulai melaksanakan acara inti yakni Larung Sesaji atau dalam bahasa tradisional Suku Sawang disebut Buang Jung. Sambil diiringi dengan pembacaan doa, perahu kayu yang berisikan aneka makanan yang telah disiapkan sebelumnya itu dibawa ke tepian laut dan dilarung. Meskipun perahu itu mulai terbawa ombak hingga ketengah laut, semua warga Sawang masih tetap berdiri di tepi pantai sambil memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.
Bagi mereka, Ritual Buang Jung ini menjadi ungkapan terima kasih kepada laut dan Sang Pencipta atas hasil laut yang telah diperoleh. Mereka berharap, melalui sesaji itu, laut dapat menjaga para nelayan Suku Sawang dari segala macam bencana ketika berlayar dilaut. Ketika perahu sesaji itu berlayar semakin jauh terbawa ombak dan terbawa ombak dan tak lagi terlihat dari tepian pantai, barulah Suku Sawang kembali kerumah dan melanjutkan aktifitas keseharian mereka.

Kawin Massal

kawin masssal kawin massalkawin maasalTradisi kawin massal yang dilakoni masyarakat Desa Serdang, Toboali, Bangka Selatan adalah tradisi turun temurun. Perhelatan kawin massal yang biasanya digelar usai panen lada ini adalah bentuk rasa syukur masyarakat terhadap kerja keras mareka.
Kawin massal adalah prosesi dimana masyarakat Desa Serdang Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan ini menggelar akad nikah secara bersamaan dan serentak dalam hari yang sama. Biasanya tiap rumah yang menggelar hajatan kawin massal juga menggelar hiburan band. Kalau dalam kawin massal itu jumlah pengantinnya sebanyak 10 pasangan, maka band/musik pun berjumlah 10. Para penganten pun diarak keliling Desa dengan diringi musik khas melayu seperti hadra.

Selain para penggelar perhelatan pernikahan, para masyarakat di Desa Serdang pun ikut merayakan kegembiraan para pasangan yang menikah secara massal itu dengan ikut menggelar makanan di setiap rumah. Setiap rumah di Desa ini selalu menyiapkan makanan buat para tamu yang datang untuk melihat tradisi ini Ini sebagai bentuk rasa kegembiraan masyarakat terhadap pasangan kawin massal yang menggelar hajatan di Desa mareka.

Ketika era harga lada mengalami boomingnya pada tahun 1980-1990-an, setiap perhelatan kawin massal tak kurang dari 10 hingga 15 pasangan yang menikah. Dan 10 hingga 15 band penghibur pun tampil disetiap rumah para pengantin. Kadangkala Band dan musik penghibur pun didatangkan dari luar Bangka Selatan. Bisa kita bayangkan bagaimana suasananya. Seperti festival band dan parade musik.
Sayangnya tradisi kawin massal yang merupakan simbol semangat kebersamaan ini kurang mendapat respon dari pemerintah, khususnya Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Seharusnya tradisi kawin massal di Desa Serdang ini bisa menjadi agenda tahunan Departemen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif karena dalam prosesi kawin massal begitu banyak pelaku-pelaku ekonomi yang ikut menikmati. Para penjual makanan biasanya selalu menjadikan kegiatan tradisi tahunan ini sebagai sarana untuk memperdagangkan produknya.
Tradisi kawin massal di Desa Serdang Toboali ini adalah tradisi yang terus dilestarikan masyarakat Desa Serdang. Ribuan filosofi hidup dapat kita teladani dalam tardisi adat ini. Dan tradisi kawin massal ini adalah satu-satunya yang ada di Indonesia dan masih tetap dilestarikan masyarakat. Kalau anda punya waktu, maka usai panenan lada biasanya sekitar bulan oktober, maka datang lah ke Desa Serdang Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan,Bangka Belitung. Dan Anda pun akan larut dalam kebahagiaan sebagaimana kebahagian yang dirasakan  pasangan penganten massal.