Monthly Archives: Maret 2015

Ragam Indonesia – Bangka Belitung

Bangka Belitung kaya akan tempat-tempat wisatanya…
nah buat kamu-kamu yang belum tau indahnya liburan di bangka belitung
saya pengen berbagi informasi…

Iklan

Pinang Sebelas

tarian pinang sebelas berarti kota pangkalpinang yang lahir pada bulan sebelas (November) , Merupakan tari penyembutan tamu , sebagai adat melayu yang selalu menghormati tamu . Pata bujang dan dayang dengan ramah , sopan dan berwibawa menyambut tamu yang hadir.

Sejarah Tari Campak – BangkaBelitung

Tari Campak ini berasal dari daerah Kepulauan Bangka Belitung, tari mejelaskan tentang pergaulan yang menggambarkan kegembiraan kaum muda mudi. Tarian ini biasanya dibawakan berpasangan oleh laki-laki dan perempuan.
Menurut cerita, tari Campak aslinya berasal dari Pulau Lingga di Riau. Tarian ini kemudian dibawa ke Bangka Belitung sekitar abad ke 18 oleh orang yang bernama Nek Campak. Mungkin karena yang mengembangkan tarian ini bernama Nek Campak, tarian ini kemudian diberi nama Tari Campak.
Perkembangan mengenai Tari Campak ini pernah mengalami akulturasi dengan budaya Eropa, khususnya bangsa Portugis. Karena di masa itu Kepulauan Bangka Belitung berada dibawah jajahan Portugis. Pengaruh ini dapat dilihat dari salah satu alat musik pengiringnya yang berasal dari Eropa yaitu akordion.

campak Babel

Budaya Eropa membawa pengaruh terhadap Tarian Campak ini dan dapat dilihat dari alat musik pengiringnya yaitu akordion. Pengaruh ini tampak juga pada busana modern Eropa yang dipakai penari perempuannya, seperti gaun panjang, topi, dan sepatu berhak tinggi. Sedangkan penari laki-laki mengenakan busana tradisional yakni kemeja, celana panjang, peci, dan selendang.

Walaupun mendapat pengaruh dari budaya Eropa, tari campak Bangka Belitung tetap merupakan tari tradisional karena memiliki nilai-nilai budaya lokal yang dipertahankan. Tari campak biasanya dibawakan untuk merayakan waktu musim panen padi. Selain itu tari yang penuh keceriaan sering dibawakan para muda mudi sepulangnya dari ume atau kebun. Dalam perkembangannya tari campak juga dipertunjukan dalam pesta-pesta adat seperti penyambutan tamu dan pernikahan.

Pagelaran tari campak selalu meriah dan menarik hati. Para penari tidak hanya menari berpasang-pasangan mengikuti irama musik, mereka juga melantunkan pantun. Mereka saling berbalas pantun sampai akhirnya penari laki-laki merasa kalah. Uniknya, setelah kalah membalas pantun penari laki-laki harus memberikan uang kepada penari perempuan. Kemeriahan gerak tari dan lantunan pantun yang dibawakan oleh para penari tari campak diiringi oleh alat musik tradisional seperti gong dan gendang serta alat musik modern Eropa yaitu akordion dan biola.

Kundeng Laot – Tiara Selatan

 

SINOPSIS
“KUNDENG LAOT”

Kundeng Laot merupakan kegiatan suku sekak sebelum melaut.Tarian Kundeng Laot berpijak pada gerakan Gajah Menunggang yang telah di kreasikan, serta terinspirasi dari gerakan dan suasana yang ada di laut.
Penggunaan ancak yang disimbolkan sebagai tempat sesaji yang juga mendukung dalam acara adat “ KUNDENG LAOT ”.

Produksi : Sanggar Tiara Selatan Bangka Selatan
Penata Tari/Koreografer : Rizky Al Saddam Saputra
Penata Musik/Komposer : Sispurwanto, S.Pd
Penata Rias & Busana : Nopri Dwi Anggara & Che-Che Yati
Pimpinan : Anto Soekarsa

Tari Ayun Guang(Emak) – Tiara Selatan

 

SINOPSIS
“AYUN GUANG (EMAK)”

Tarian ini menceritakan tentang Cinta, Hormat dan Kasih Sayang anak kepada Orang tua sesuai dengan ajaran Melayu Islam yang mewajibkan anak patuh, hormat dan sayang dan selalu mendo’akan orang tuanya.
Dengan tekad mereka mewujudkan cita-cita serta menjunjung tinggi rasa kebersamaan kearah tujuan hingga mencapai keberhasilan untuk membangun daerah yang berbudaya.

Produksi : Sanggar Tiara Selatan Bangka Selatan
Penata Tari/Koreografer : Che-Che & Marpiandi
Penata Musik/Komposer : Beben & Erix
Penata Rias & Busana : Butet Lentik

Perang Ketupat – Bangka Barat

Perang Ketupat

Perang Ketupat merupakan acara adat yang biasa di gelar di pulau Bangka. Acara ini diselenggarakan setiap masuk Tahun Baru Islam (1 Muharam) di Pantai Tempilang, Kabupaten Bangka Barat. Pada saat acara ini berlangsung, penduduk sekitar pantai Tempilang yang menyelenggarakan acara tersebut akan membuka pintu rumah sebesar-besarnya untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke desa mereka.

Perang ketupat adalah acara inti dari semua prosesi dari acara hari itu. Orang-orang berkumpul di Pantai Tempilang, kemudian pada saat Meriam dinyalakan bertanda acara dimulai. Orang-orang saling melempar ketupat ke setiap orang yang mereka temui. Acara ini cukup digemari oleh kaum muda di daerah Bangka. Banyak pemuda yang sengaja datang dari jauh, atau malah pulang dari perantauan untuk menghadiri acara ini.

Kepunan (kepon) – Adat Bangka

Tidaklah baik kamu menolak makan/minum ataupun sekedar mencicipi suatu makanan/minuman yang disuguhkan orang lain. Hal ini telah menjadi suatu kebiasaan yang telah lama melekat dalam adat istiadat masyarakat Bangka Belitung.

Terlebih lagi bila kita akan pergi ke sungai, hutan, laut, atau kemana saja. Imbas dari sikap kita yang “kalo” tidak mencicipi makanan/minuman tersebut, kadangkala dan sering terjadi hal-hal yang bisa mendatangkan musibah. Katakanlah nasib sial akan mengikuti kita. Misalnya mengalami kecelakaan, bertemu hantu, digigit binatang buas/berbahaya dan lainnya.

Menurut masyarakat Bangka, kejadian yang berlatar akibat kepon itu sudah banyak sekali terjadi. Contoh kongkritnya banyak berupa kecelakaan dan berbagai musibah lain. Di desa Perlang, Kabupaten Bangka Tengah, dulu pernah terjadi seorang warga yang disambar buaya setelah istrinya menawari (menyuruh) untuk makan nasi bubur yang sudah disiapkannya ketika jam makan (siang hari).

Untuk menangkal dan sebagai tindakan penawar kepon, dikenal istilah malet. Malet adalah sikap kita dengan mencicipi makanan atau minuman itu dengan menyentuh menggunakan ujung jari dan dicicipi dilidah. Kadangkala ujung jari yang sudah disentuh dengan makanan/minuman itu cukup disentuhkan pada tangan kita.

Untuk makanan dan minuman yang sangat vital akan adat istiadat kepon dan malet ini adalah :

1. Kopi , terutama kopi hitam (kopi kampung). Kalo NESCAFE dan lainnya, tetep juga katanya.
2. Nasi , bisa meliputi nasi bubur, nasi goreng dan semacamnya.
3. Makanan yang terbuat dari beras ketan dan berbagai hasil pertanian yang dihasilkan sendiri.

Terlepas dari adanya korelasi KEBETULAN dan KETETAPAN ILAHI atas budaya kepon dan malet ini, adat dan istiadat ini masih berkembang di masyarakat Bangka Belitung hingga saat ini. Dan gak ada salahnya bila kita ditawari makanan/minuman di Bangka, janganlah menolak untuk mencicipinya. Paling gak malet saja.